Month: December 2017

27 Dec by Claire

Karir Bermasalah ? Coba Perbaiki Skill Komunikasi

Sebagai makhluk sosial, manusia dituntut untuk memiliki kemampuan berkomunikasi. Tidak peduli jika orang itu tidak bisa bicara atau mendengar, komunikasi adalah salah satu aspek terpeting dalam hidup manusia. Sebagai contoh, jika kamu bekerja sebagai staff customer service di sebuah situs agen judi, kamu harus memiliki kemampuan komunikasi yang baik untuk membantu pelanggan menyelesaikan masalahnya. Tidak hanya pelanggan, komunikasi efektif juga diperlukan antar sesama pekerja. Jika mendengar istilah kemampuan komunikasi efektif, mungkin kita semua berpikir jika itu lebih seperti insting daripada sesuatu yang harus dilatih atau diajarkan. Namun begitu, seringkali kita "tersesat" saat mencoba untuk berkomunikasi dengan orang lain. komunikasi efektif dan efisien Kita berkata sesuatu, orang lain mendengar hal lain, terjadi kesalahpahaman, frustrasi, dan akhirnya konflik, pertengkaran dan perselisihan. Hal ini bisa terjadi dimana saja; rumah, sekolah, pekerjaan, atau hubungan asmara. Beberapa dari kita butuh pelatihan khusus untuk dapat berkomunikasi dengan efektif dan efisien. Mempelajari kemampuan ini dapat memperdalam hubunganmu dengan orang lain, membangun kepercayaan dan rasa hormat, meningkatkan kerjasama tim, menyelesaikan masalah, terutama kesehatan sosial dan emosional.

Apa Itu Komunikasi Efektif?

Komunikasi efektif lebih dari sekedar berbagi informasi. Ini tentang memahami emosi dan maksud dibalik informasi. Sebagaimana baiknya menyampaikan informasi, kamu juga harus mendengarkan dengan seksama untuk mengerti secara penuh maksud yang tersirat agar lawan bicara merasa didengarkan dan dimengerti. Tidak hanya pilihan kata yang kamu gunakan, komunikasi yang efektif adalah kombinasi dari 4 kemampuan:
  • Kemampuan mendengar
  • Komunikasi non-verbal
  • Mengatur tekanan
  • Berbicara tegas namun tetap sopan

skill komunikasi dengan boss

Apa yang Membuat Seseorang Sulit Berkomunikasi Efektif?

  • Stres dan sulit mengendalikan emosi. Dalam kondisi yang emosional, kamu akan cenderung salah mengartikan maksud orang lain, memberikan sinyal yang salah saat berkomunikasi, yang jika polanya berulang akan menjadi sebuah kebiasaan yang sulit dihilangkan.
  • Kurang fokus. Kamu tidak bisa berkomunikasi dengan efektif jika sedang melakukan kegiatan lain. Kalau kamu terus menerus melihat handphone, merencanakan apa yang akan kamu katakan, atau melamun, hampir dipastikan kamu akan melewatkan semua sinyal non-verbal yang penting dalam komunikasi.
  • Bahasa tubuh yang tidak konsisten. Segala komunikasi non-verbal haruslah mendukung apa yang kita katakan, bukan bertolak belakang. Kalau kamu mengatakan sesuatu, sementara tubuhmu mengatakan yang lain, lawan bicaramu akan berpikir kamu berbohong. Kamu tidak bisa berkata "Ya" dengan menggelengkan kepala.
  • Sinyal-sinyal negatif. Jika kamu tidak setuju dengan apa yang dikatakan seseorang, kamu akan cenderung memberikan sinyal negatif melalui gerakan tubuh sebagai mekanisme pertahanan, seperti menyilangkan tangan, menghindari kontak mata, atau menggelengkan kepala. Kamu boleh tidak setuju atau tidak suka dengan perkataan orang, namun salah satu kunci berkomunikasi secara efektif adalah menghindari memberikan sinyal negatif pada lawan bicara.
Untuk itu, sangatlah penting memiliki kemampuan berkomunikasi secara efektif dan efisien. Selain beberapa hal di atas, yang paling penting dari komunikasi adalah pengertian dari kedua belah pihak. Komunikasi tetap tidak akan berjalan lancar jika hanya satu pihak yang memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik. Kalau tujuanmu dapat seluruhnya dapat dimengerti dan terhubung dengan lawan bicara-mu, otomatis kamu juga akan menjadi pendengar yang baik. Semakin sering kamu melatih skill komunikasi, semakin memuaskan hubunganmu dengan orang di sekitar. Kunjungi http://www.mahabet.org untuk mendapatkan pengalaman seru dan menyenangkan sekali dalam hidup. Kenyamanan kamu akan selalu terjamin karena staff kami sudah dipastikan memiliki kemampuan berkomunikasi yang efektif dan akan selalu siap sedia membantu ketika kamu kesulitan.
22 Dec by Claire

5 Langkah Jitu Mengontrol Amarah

Apakah Anda tipe orang yang mudah marah? Berhati-hatilah, karena sifat tersebut akan membawa banyak efek negatif. Ada beberapa tips yang bisa Anda lakukan untuk mengontrol amarah Anda agar Anda tidak lagi mudah tersulut. Apa saja tipsnya?  
  1. Berpikirlah sebelum Berbicara
Kebanyakan orang yang tidak bisa mengontrol kemarahan mereka akan cenderung untuk langsung mengungkapkan apa yang di dalam pikiran mereka dalam bentuk ucapan. Akhirnya, ucapan akan penuh dengan kemarahan termasuk pilihan kata yang kasar dan juga nada yang cenderung meninggi. Hal ini hanya akan membuat kondisi lebih runyam. tips menahan amarah Kemarahan Anda bisa memicu kemarahan orang lain dan masalah bisa menjadi rumit lagi. Ketika Anda sedang merasa marah, ada baiknya Anda jangan langsung mengutarakan kemarahan Anda. Cobalah berpikir dengan baik-baik mengenai apa yang ingin Anda ungkapkan tersebut. Sebagai permulaan proses untuk mengontrol kemarahan Anda, Anda bisa tetap bisa marah akan tetapi dengan ucapan yang lebih tertata. Sebagai contoh, Anda ungkapkan kemarahan Anda dengan cara yang lebih “bersahabat” dan tanpa menggunakan kata yang kasar dan nada yang tinggi. Percayalah, dengan berpikir sebelum berbicara, Anda tetap bisa melampiaskan amarah tanpa membuat kondisi lebih runyam dan membuat orang lain terpancing ikut marah.  
  1. Rehat Sejenak
Beristirahatlah sebentar dari apa yang sedang Anda kerjakan ketika Anda sedang marah. Malahan, Anda diwajibkan untuk rehat sejenak jika apa yang Anda kerjakan tersebut merupakan sumber kemarahan Anda. Ambil saja contoh pekerjaan Anda yang membuat Anda marah. Silakan Anda tinggalkan dulu pekerjaan Anda, keluar dari ruangan kerja dan pergi ke kamar mandi, basuh muka dan ambil napas panjang. rehat sejenak Hal-hal sepele seperti rehat sejenak terbukti bisa membuat Anda bisa berpikir lebih jernih tentang kemarahan Anda. Anda bisa menekan amarah Anda dengan lebih optimal atau bahkan benar-benar menghilangkannya. Paling tidak, Anda bisa mengontrol amarah Anda dan kemudian bisa mengerjakan tips yang sudah disebutkan di nomor satu yaitu berpikir terlebih dulu sebelum berbicara.
  1. Coba Cari Solusi yang Memungkinkan
Tips yang ketiga ini masih berhubungan dengan tips nomor dua yang disebutkan di atas. Ketika Anda sudah rehat sejenak, Anda akan memiliki kesempatan untuk membuat pilihan dan diharapkan Anda bisa menekan amarah Anda. Dan ketika Anda sudah merasa agak lebih tenang, Anda akan bisa berpikir lebih jernih dan kemudian bisa mencari solusi dari kondisi kemarahan yang sedang Anda alami. Jika Anda marah karena pekerjaan Anda terus ditambah oleh bos Anda, Anda bisa bernegosiasi dengan bos tanpa rasa marah. Atau Anda bisa tetap melakukan pekerjaan tersebut dengan baik dan efektif karena Anda sudah bisa berpikir lebih jernih. Intinya, selalu cari jalan keluar yang memungkinkan untuk mengendalikan kemarahan Anda tersebut. olahraga ringan di kantor - melemaskan otot
  1. Berolahraga
Banyak orang yang tidak bisa menghubungkan antara kontrol amarah dengan berolahraga, namun ternyata keduanya banyak berhubungan. Ketika Anda marah, sebagian besar adalah karena tingkat stress yang sudah terakumulasi. Jika Anda mengalami stress yang bertubi-tubi, kemungkinan Anda untuk marah akan semakin besar bahkan untuk hal yang sepele. Dan stress tersebut bisa diatasi salah satunya dengan berolahraga. Jika badan Anda sehat, stress juga berkurang, Anda akan bisa lebih mengontrol amarah Anda.
  1. Perbanyak Ibadah
Ini merupakan tips yang sangat penting. Dengan memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri dengan Tuhan, secara otomatis kondisi psikologis Anda akan lebih tenang. Anda akan menjadi orang yang lebih tentram dengan cara tersebut. Dan dengan kondisi seperti itu, Anda bisa menghindari sifat amarah yang akan merugikan Anda dan orang-orang di sekitar Anda.
10 Dec by Claire

5 Hal Penting dalam Menjaga Hubungan Baik dengan Keluarga Pasangan

Sebagai orang Indonesia memiliki keluarga besar bukan sebuah hal yang aneh. Apalagi zaman nenek kakek kita yang memiliki anak sampai belasan sehingga jumlah anggota keluarga makin banyak dan berkembang. Bagi pasangan yang baru menikah, beradaptasi dengan keluarga besar pasangan merupakan agenda wajib. Namun, tidak sedikit yang merasa lebih nyaman berdua saja tanpa membaur dengan keluarga pasangan, karena mungkin tidak terbiasa atau merasa berbeda. Tetapi ada juga yang mulai mencoba masuk menjadi bagian dari keluarga tersebut. keluarga besar pasangan Pada kenyataannya, ketika seseorang menikah, bukan hanya menikah dengan pasangan saja  melainkan juga dengan seluruh keluarganya. Sehingga menjadi bagian dari keluarga pasangan adalah bagian dari menikahi pasangan.  Namun, tidak sedikit banyak pasangan muda yang merasa kesulitan melakukannya. Nah, di bawah ini ada saran yang bisa dipraktekkan sehingga masalah adaptasi ini bisa terselesaikan dan hubungan dengan keluarga besar pasangan menjadi semakin harmonis.
  1. Kenali Budaya Keluarga Pasangan
Pasangan yang memiliki kesamaan suku mungkin tidak terlalu kesulitan dalam beradaptasi. Budaya suku biasanya mencerminkan budaya keluarga, sehingga bagi yang berbeda sukunya butuh effort lebih untuk bisa segera membaur. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi kesalahpahaman di kemudian hari. Karena perbedaan-perbedaan ini akan berpengaruh kepada kebiasaan, komunikasi, pola pikir dan lainnya. Alangkah baiknya kalau hal ini sudah dilakukan sejak sebelum menikah. Sehingga tidak terjadi gagap budaya dan friksi-friksi atas perbedaan yang ada.
  1. Open Mindset
Kita harus paham bahwa setiap orang itu berbeda. Jangankan dengan pasangan, saudara kandung yang tinggal serumah dengan kultur keluarga saja mempunyai kebiasaan yang berbeda. Apalagi dengan pasangan yang dibesarkan oleh keluarga lain dengan kultur budaya yang pastinya tidak sama. Untuk ini, hal pertama yang harus ditanamkan adalah membuka pikiran kita atas setiap perbedaan positif yang akan kita temui. Karena setelah mengenali budaya keluarga pasangan, tidak menutup kemungkinan hal ini bisa diterapkan dan menjadi kultur keluarga baru jika hal itu masih dalam koridor kebaikan. Dengan open mindset ini budaya keluarga pasangan yang  bertolak belakang dengan budaya sendiri tidak menjadi sesuatu hal yang negatif.
  1. Tentukan Batasan
Saat berumah tangga tentu tidak luput dalam permasalahan. Sebagai orang baru di dalam keluarga besar pasangan, sebaiknya kita menentukan batasan dan mendiskusikannya kepada pasangan kita untuk hal-hal yang bersifat prinsipil. Contohnya masalah uang, tentu ini harus didiskusikan secara jelas. Jangan sampai kebiasaan di keluarga besar tentang uang yang berbeda dengan kita malah mengganggu keharmonisan keluarga kita. Maka dari awal mulai lakukan batasan sejauh mana budaya di keluarga besar pasangan yang akan kamu adopsi dan mana yang tidak. Agar tidak terjadi kesalahpahaman di kemudian hari.
  1. Bersikap Tulus
Tidak hanya pada keluarga pasangan, bersikap tulus haruslah menjadi bagian dari karakter kita. Manfaat dari ketulusan ini adalah kemudahan dalam beradaptasi dan diterima oleh lingkungan baru. Lakukanlah semuanya dengan tulus meskipun terdapat perbedaan budaya yang sangat ekstrem dari keluarga pasangan. Sebab ketulusan kita akan meringankan segala hal yang kita lakukan kepada keluarga pasangan. masalah rumah tangga
  1. Hindari Berbagi Masalah Rumah Tangga
Permasalahan demi permasalahan yang ada di dalam rumah tangga kita akan menjadi sebuah pondasi yang kuat jika kita bisa menyelesaikannya. Namun jika tidak, tentu akan menjadi sebuah boomerang bagi keharmonisan rumah tangga. Saat kita memiliki masalah dengan pasangan, sebaiknya hindari berbagi masalah rumah tangga dengan keluarga pasangan jika kita tidak yakin akan mendapat solusi yang tepat. Karena yang tahu kondisi rumah tangga kita, adalah kita sendiri bukan orang lain, ataupun keluarga pasangan. Berhati-hati dalam menerima nasehat orang ketiga dalam menyelesaikan masalah rumah tangga, meskipun itu orang tuamu sendiri. Dan sedekat apapun hubungan kita dengan keluarga pasangan, sebaiknya tidak melibatkan mereka ke dalam masalah rumah tangga kita.   Lima hal di atas sangat penting untuk bisa membantu menciptakan hubungan yang harmonis di antara keluarga baru sehingga adaptasi dan pembauran bisa segera terjadi.